Kamis, 30 Desember 2010

Jumlah Bintang di Semesta 3 Kali Lebih Banyak

VIVAnews - Hasil temuan dari para ilmuwan baru-baru ini menyatakan bahwa alam semesta kemungkinan memiliki jumlah bintang yang tiga kali lebih besar daripada yang diperkirakan saat ini.

Hasil penemuan tersebut didasarkan oleh observasi baru yang menunjukkan bahwa galaksi-galaksi yang ada di alam semesta ternyata tak cuma galaksi yang memiliki struktur yang mirip dengan struktur galaksi Bima Sakti.

Riset yang dilakukan oleh para peneliti Yale University, menggunakan teleskop Keck di Hawaii, menemukan bahwa ada banyak galaksi yang lebih tua dari galaksi Bima Sakti, yang terdiri dari 20 kali lebih banyak bintang kerdil merah daripada yang diketahui saat ini.

Bintang kerdil merah adalah bintang yang memiliki ukuran yang lebih kecil dan cahaya yang lebih redup daripada matahari di sistem tata surya kita. Oleh karenanya, hanya teleskop tertentu yang memiliki kemampuan lebih, yang dapat mendeteksi cahaya redup dari bintang-bintang kerdil tersebut.

Profesor Pieter van Dokkum dari Yale University, yang memimpin penelitian ini, mengatakan bahwa penemuan timnya tak hanya memperkirakan lebih banyak jumlah bintang, namun juga meningkatkan perkiraan jumlah planet di jagat raya sekaligus kemungkinan adanya planet yang menyerupai bumi.

"Ada kemungkinan triliunan planet seperti bumi yang mengorbit pada bintang-bintang kerdil tersebut. Bintang merah kerdil biasanya berusia 10 miliar tahun dan usia itu sudah cukup untuk memiliki kehidupan yang kompleks pada planet-planet yang mengelilinginyaa. Makanya banyak orang yang tertarik dengan jenis bintang ini," kata van Dokkum seperti dikutip dari BBC.

Penelitian ini juga membantu para astronom menjelaskan jumlah 'massa yang hilang' di alam semesta. Sebab, selama ini dari perhitungan pergerakan gaksi-galaksi, diperkirakan alam semesta memiliki lebih banyak material daripada yang bisa dilihat saat ini. Biasanya material ini disebut materi gelap (dark matter).

Bintang kerdil berwarna merah terlihat dari pantauan teleskop  Keck

"Ditemukannya lebih banyak bintang di jagad raya, membuat kita tidak perlu terlalu banyak mengasumsikan keberadaan materi hitam. Itu juga menjelaskan kepada kita bagaimana galaksi-galaksi pertama kali terbentuk dari gas, setelah terjadinya dentuman besar," kata Marek Kukula, peneliti dari Royal Observatory Greenwich Inggris.

Selain itu, kata Robert Massey, peneliti yang juga dari Royal Observatory Greenwich, penemuan terhadap lebih banyak bintang kerdil merah--yang berasal dari galaksi elips, bukan galaksi spiral seperti Bima Sakti--juga konsisten dengan ide bahwa ada banyak bintang yang lebih tua dan memiliki rentang kehidupan yang lebih lama daripada matahari kita.

Bintang kerdil merah adalah bintang yang memiliki massa tidak lebih dari 40 persen dari massa matahari. Biasanya mereka memiliki temperatur yang lebih rendah dari temperatur permukaan matahari. Belum lama ini peneliti juga menemukan planet Zarmina, planet mirip bumi di konstelasi Libra, dalam sistem tata surya bintang kerdil merah.

• VIVAnews
Selanjutnya »» Jumlah Bintang di Semesta 3 Kali Lebih Banyak

Terkuak, Misteri 'Bola Hijau UFO' Australia


VIVAnews --Pada 16 Mei 2006, setidaknya tiga buah bola api berwarna hijau -- seterang Bulan, namun lebih redup dari Matahari tampak di langit di timur laut Australia. Fenomena itu disaksikan masyarakat Queensland, Teritori Selatan, dan wilayah utara New South Wales, Australia.

Seorang petani, misalnya, mengaku melihat satu bola hijau dengan ekor lonjong berwarna biru melewati pegunungan Great Divide, sekitar 120 kilometer di barat Brisbane. Ia juga mengamati bola itu berpendar dan perlahan menuruni sisi gunung dan memantul di bebatuan.

Bola hijau ini memicu spekulasi bahwa UFO telah menampakkan diri Brisbane.

Di saat sama, seorang pilot maskapai penerbangan komersial yang mendarat di Selandia Baru melaporkan melihat meteor terpecah menjadi fragmen, yang lantas berubah menjadi hijau turun ke arah Australia.

Empat tahun kemudian, ilmuwan menguak misteri ini. Fisikawan, Stephen Hughes dari Queensland University of Technology Brisbane memberikan dua penjelasan berdasarkan dua peristiwa tersebut.

Kata dia, wajar jika orang-orang menafsirkan itu adalah penampakan UFO. Namun, untuk kasus ini, jelas bukan. Benda yang diperkirakan berukuran 30 centimeter itu juga bukan meteorit. "Jika itu meteorit pasti akan membentuk kawah dan akan ada ledakan terdengar," kata dia, seperti dimuat ABC.

Meteorit sebesar itu juga tak mungkin terlihat turun perlahan dari langit.

Lalu benda apakah itu? Kata Hughes, benda misterius itu kemungkinan besar adalah bola api yang bergerak dengan gerakah tipe 'bola pantai'. Soal asal bola api itu, Hughes mengatakan, itu mungkin dari puing-puing komet yang lewat dekat Bumi beberapa waktu sebelumnya.

"Bola api hijau ini jelas sesuatu yang datang dari langit dan berasal dari meteorit," kata dia.

Bola api hijau ini berasal dari bongkah batu yang datang dari luar angkasa, ukuran awalnya lebih besar dari 1 kilogram, tapi kemudian terbakar atmosfer dan menjadi hanya seukuran lemon atau apel.

Dr Hughes mengatakan bola api itu kemungkinan besar dari puing-puing komet 73P/Schwassmann–Wachmann 3, yang melewati dekat ke Bumi sekitar empat bulan sebelumnya.

Menurut dua, meteor telah memicu cahaya hijau dengan cara menciptakan hubungan listrik antara bagian atas atmosfer dengan Bumi.

Penemuan dilansir dalam Jurnal Royal Society Selasa 30 November 2010, ini akan bisa membantu menjelaskan banyak fenomena UFO. Mungkin heboh penampakan UFO ternyata hanya fenomena yang disebabkan meteor. Siapa tahu?

Baca juga: 7 hal yang sering dikira UFO

Selanjutnya »» Terkuak, Misteri 'Bola Hijau UFO' Australia

Dinosaurus, Efek Samping Pemanasan Global

VIVAnews - Pemanasan global menghancurkan hutan hujan tropis sekitar 300 juta tahun yang lalu. Kini ilmuwan melaporkan temuan mengejutkan yang mengungkapkan bahwa pemanasan global memicu evolusi drastis di kalangan reptil.


Evolusi tersebut, secara tidak sengaja membuka jalan munculnya dinosurus, 100 juta tahun kemudian. Meningkatnya suhu global terjadi di periode Carboniferous.

Di saat itu, Eropa dan Amerika Utara berada di kawasan khatulistiwa dan memiliki hutan hujan tropis yang cukup luas. Namun, saat suhu Bumi semakin panas dan kering, hutan hujan menjadi tandus dan memicu evolusi reptil.

Saat Bumi menjadi semakin panas, hujan berhenti turun dan hutan hujan tropis mengering. Hutan yang sangat luas kemudian terpecah-pecah menjadi beberapa bagian dan saling terpisah oleh daratan kering yang tak dapat dilewati.

“Perubahan cuaca menyebabkan hutan hujan terpisah-pisah menjadi “pulau-pulau” hutan,” kata Dr Howard Falcon-Lang, peneliti dari Royal Holloway, University of London, seperti dikutip dari Physorg, 1 Desember 2010.

Populasi reptil yang terisolasi ini, kata Falcon-Lang, dan masing-masing komunitasnya berevolusi ke arah yang berbeda-beda dan menyebabkan meningkatnya keanekaragaman. Adapun spesies yang paling berhasil bertahan adalah reptil.

Terputus dari satu sama lain, menghadapi lingkungan yang sangat keras, reptil-reptil ini kemudian berevolusi secara berbeda dan dalam cara yang mengerikan.

Sekitar 100 tahun kemudian, reptil-reptil yang berevolusi tersebut membuat Bumi 'berguncang' akibat langkah kaki-kaki mereka.

Hancurnya lingkungan hidup akibat pemanasan global tampaknya telah memicu rangkaian yang kemudian menjurus ke pemunculan predator raksasa paling mengerikan sepanjang sejarah planet Bumi.

“Sangat mengagumkan melihat bahwa di saat menghadapi kehancuran lingkungan dan ekosistem, hewan terus berevolusi dan menjadi populasi endemis,” kata Sarda Sahney, juga dari University of Bristol, Inggris.

Meski demikian, Sahney menyebutkan, kehidupan belum tentu bisa beruntung seperti yang terjadi ratusan juta tahun yang lalu. “Apalagi kalau hutan hujan Amazon musnah di masa datang,” ucapnya.

• VIVAnews
Selanjutnya »» Dinosaurus, Efek Samping Pemanasan Global

FOTO: Saat Sebelum Badai Menghantam

VIVAnews - Badai atau angin topan merupakan udara yang berputar dengan kecepatan tinggi, yakni mencapai 120 kilometer per jam atau bahkan lebih. Fenomena alam ini kerap terjadi di wilayah tropis di antara garis balik di utara dan selatan khatulistiwa.


Umumnya angin topan atau badai membawa serta sambaran petir hingga banjir bandang. Adapun badai paling merusak adalah badai topan yang dikenal sebagai angin siklon (cyclone) di samudera Hindia atau topan (typhoon) di samudera Pasifik.

Badai juga biasanya membawa ketakutan. Namun, ada sesuatu yang indah yang terjadi sesaat sebelumnya, yaitu awan yang terbentuk menjelang badai menghantam.

Seperti diketahui, badai terjadi ketika suhu udara panas dikelilingi oleh suhu udara yang dingin. Kombinasi yang ekstrim tersebut menciptakan angin dan menimbulkan pembentukan awan badai yang ternyata sangat menakjubkan jika dilihat.

Berikut foto-foto rupa awan sebelum badai melanda berbagai belahan dunia. (hs)

Foto: AP Photo

Selanjutnya »» FOTO: Saat Sebelum Badai Menghantam

Teori Baru Lahirnya Jagat Raya

VIVAnews - Seorang kosmolog utama Oxford University menyatakan bahwa ia berhasil mengamati efek kosmik dari sebuah kejadian yang mendahului Big Bang.

Roger Penrose, kosmolog itu menyebutkan, saat mengamati radiasi latar belakang gelombang mikro kosmik, ia menemukan gema dari kejadian-kejadian sebelum Big Bang. Berarti, Big Bang bukanlah awal terciptanya jagat raya seperti yang diyakini saat ini.

Penrose menyebutkan, ada lubang hitam yang hadir sebelum Big Bang dan telah meninggalkan pengaruh yang bisa diamati di alam raya kita. Bentuknya seperti lingkaran konsentrik di sekitar kluster galaksi di mana di dalamnya terdapat variasi temperatur yang rendah.

"Pemikiran bahwa jagat raya dimulai dari sebuah dentuman dahsyat yang disebut Big Bang dan kemudian meluas setelahnya merupakan pemikiran yang salah," kata Penrose, seperti dikutip dari BBC, 1 Desember 2010.

Untuk mengganti teori itu, ia mengemukakan teori yang disebut Conformal Cyclic Cosmology. Pada teori barunya ini, tidak ada asal muasal jagat raya dan ia mengklaim telah memiliki sejumlah data yang mendukung teorinya tersebut.

“Analisis dari Wilkinson Microwave Background Probe (WMAP) yang menganalisa latar belakang gelombang mikro kosmik pada peta selama 7 tahun telah mengungkapkan lingkaran konsentrik,” kata Penrose,

Lingkaran ini, kata Penrose, telah dikonfirmasi keberadaannya setelah analisis yang sama diterapkan pada data dari BOOMERanG98, yang mengeliminasi kemungkinan adanya penyebab instrumental terhadap efek tersebut.

“Prediksi observatorial ini tidak bisa dijelaskan dengan mudah menggunakan standar komsologi inflationary yang ada saat ini,” ucap Penrose.

Penrose menyebutkan, lingkaran itu terbentuk akibat sejumlah gelombang yang merepresentasikan kejadian-kejadian yang mendahului Big Bang.

“Dalam skema yang saya tawarkan, terdapat ekspansi eksponensial akan tetapi itu bukan aeon (masa yang berabad-abad lamanya) kita,” kata Penrose. “Saya berani menyatakan bahwa aeon ini merupakan penerus dari kejadian sebelumnya, di mana masa depan dari aeon sebelumnya merupakan Big Bang di aeon kita,” ucapnya.

Selanjutnya »» Teori Baru Lahirnya Jagat Raya

Peneliti Berhasil Bikin Tikus Semakin Muda

VIVAnews - Ilmuwan Harvard satu langkah lebih dekat untuk menemukan “obat awet muda” setelah menemukan cara membalikkan proses penuaan pada tikus. Terobosan ini berpotensi memperlambat proses penuaan pada manusia dan dapat meningkatkan kualitas hidup dengan mereduksi penyakit terkait usia lanjut.


Pada penelitian, seperti dikutip dari Guardian, 30 November 2010, ilmuwan Harvard Medical School mengubah tikus tua yang sakit-sakitan menjadi lebih muda dengan memberikan enzim yang disebut telomerase.

Menurut peneliti, meski proses penuaan belum dapat dipahami secara penuh, salah satu dari banyak faktor yang menyebabkan kerusakan jaringan tubuh umumnya terkait dengan telomeres, zat yang melindungi ujung setiap kromosom dalam DNA.

Saat sel dipisahkan, telomeres terus memendek sampai akhirnya berhenti dan membuat sel tersebut mati atau masuk ke dalam modus non aktif.

Peneliti lalu mengubah tikus yang secara genetik mengalami kekurangan telomerase, enzim yang menghentikan telomeres menjadi semakin pendek. Seperti diketahui, jika telomeres semakin pendek, tikus tua lebih cepat dan lekas mengalami tanda-tanda penuaan seperti rusaknya organ, menyusutnya otak, dan ketidaksuburan.

Kemudian, peneliti menyuntikkan zat yang mampu mengaktifkan kembali telomerase di tikus. Langkah ini ternyata tidak saja memperlambat efek penuaan, akan tetapi juga membalikkan efek penuaan. Intinya, membuat tikus tersebut tumbuh semakin muda.

Meski begitu, peneliti mengingatkan, meremajakan organ tua pada tikus bukan berarti peremajaan pada manusia sudah dekat. Sebagai contoh, tikus membuat telomerase sepanjang hidupnya, akan tetapi pada manusia, enzim tersebut berhenti saat beranjak dewasa karena dapat menyebabkan replikasi sel (kanker) yang belum diteliti.

Memang, tak satupun tikus dalam penelitian mengalami pertumbuhan kanker, namun bukan berarti jaringan tubuh manusia dapat mentoleransi pengobatan semacam itu.

Apapun kesimpulannya, penemuan ini tetap saja merupakan hal yang penting karena peneliti tengah berupaya untuk mengeliminasi efek negatif dari penuaan di populasi generasi tua yang semakin meningkat di seluruh dunia.

Tidak satupun yang menyatakan bahwa pengobatan macam itu dapat membantu manusia hidup lebih lama. Namun temuan di atas dapat menyediakan kualitas hidup yang lebih baik bagi manusia tua dengan memungkinkan organ mereka melakukan regenerasi. Alias tidak memburuk saat manusia mendekati akhir hidupnya. (hs)

• VIVAnews
Selanjutnya »» Peneliti Berhasil Bikin Tikus Semakin Muda

Russia Siapkan Pesawat “Sapu Jagat”

VIVAnews - Energia Rocket and Space Corporation, perusahaan eksplorasi angkasa luar milik Russia mengumumkan rencana mereka untuk mengembangkan kapsul ruang angkasa.

Berbeda dengan pesawat luar angkasa lainnya, kapsul ini didesain khusus untuk menyapu sampah-sampah di kawasan di sekeliling Bumi.

Energia menyebutkan, setiap tahun, kawasan di sekeliling Bumi semakin padat dijejali oleh satelit usang dan serpihan-serpihannya. Adapun sistem yang dikembangkan tersebut diperkirakan akan memakan biaya sebesar 60 miliar ruble atau sekitar 17,2 triliun rupiah.

“Kami berjanji untuk membersihkan ruang angkasa dalam waktu 10 tahun. Caranya dengan mengumpulkan sekitar 600 satelit bekas di orbit geosynchronous dan kemudian menenggelamkan mereka ke samudera,” kata Victor Sinyavsky, juru bicara Energia, seperti dikutip dari Interfax, 30 November 2010.

Sinyavsky menyebutkan, untuk membersihkan sampah-sampah luar angkasa, dibutuhkan sebuah pesawat yang menggunakan bahan bakar nuklir dan mampu bekerja hingga 15 tahun.

Rencananya, kata Sinyavsky, Energia akan menyelesaikan pembuatan satelit pembersih itu pada tahun 2020 mendatang. Adapun uji coba akan dilakukan setidaknya tahun 2023.

Selain pesawat “sapu jagat” di atas, Sinyavsky menyebutkan, pihaknya juga sedang mempersiapkan pesawat pencegat (interceptor). Pesawat ini didesain untuk menghancurkan objek ruang angkasa berbahaya yang berada dalam perjalanan menuju ke arah Bumi. (hs)
• VIVAnews
Selanjutnya »» Russia Siapkan Pesawat “Sapu Jagat”